Monday, January 7, 2013

Hati Yang Berhijab



“Hanya dengan hati, seseorang dapat melihat yang benar; apa yang penting adalah apa yang tidak terlihat oleh mata”
Antoine de Saint-Exupery


Sonia. Namanya singkat dan sederhana sekali, hanya satu suku kata saja. Berbeda dengan kebanyakan teman-teman seangkatan kami, yang punya nama minimal dua suku kata. Bahkan sejak lima tahun belakangan ini, sudah menjadi trend di kalangan orangtua muda, memberikan nama anaknya minimal tiga suku kata.  Kebayang aja, sepuluh atau duapuluh tahun lagi, trend nama anak bisa jadi lima bahkan enam suku kata ya? Hehehe….

Sonia punya kakak perempuan bernama Sarah dan adik laki-laki bernama Farhan. Ya, memang orangtua mereka sederhana sekali memberikan nama pada anak-anaknya. Yang penting mudah diingat dan tetap terkesan nama orang kota.

Sonia adalah teman kuliah saya di jurusan Teknik Elektro, sedangkan kak Sarah kuliah di jurusan Teknik Lingkungan, satu angkatan diatas kami. Sejak awal saya kenal Sonia dan kak Sarah, saya selalu kagum dengan mereka dan orangtuanya. Jauh sebelum trend hijabers yang marak saat ini, mereka sudah berhijab sesuai syar’i, juga beberapa teman seangkatan saya yang lainnya, sehingga saya pun ketularan mengganti celana jeans dengan rok panjang, baju kaos dengan baju longgar dan jilbab gaul dengan jilbab menutup dada.

Jujur aja, selama kuliah, saya merasa baru menemukan dan mengenal agama Islam. Saya memang sudah bisa mengaji dan sholat sejak kecil karena saya lahir dari orangtua yang keduanya muslim. Bisa dibilang, saya mengenal Islam dari kebiasaan dalam keluarga, bukan dari hasil proses pencarian Tuhan.

Dan saat kuliah itulah, saya tidak hanya berproses mencari jati diri, tapi lebih dalam lagi, saya mencari Tuhan. Teman dan lingkungan kampus sangat mendukung saya dalam proses mencari Tuhan. Saya ikut dalam kelompok liqo’ mingguan dengan teman muslimah yang seangkatan, kegiatan forum Annisa tiap Jumat siang, saya kenal dengan nasyid, buku-buku Islam bahkan pernah saya mencicipi buku perbandingan agama dan dialog jin dan manusia. Dari semua hasil diskusi, pertanyaan kritis, muhasabah dan pergaulan dengan orang-orang yang saya kenal, saya menemukan semua jawabannya dalam Islam.

Ditengah pergumulan bathin mencari Tuhan dan kesibukan kuliah, hati saya mantap memilih Islam. Entahlah, tiba-tiba saja keyakinan itu hadir dalam hati, perlahan-lahan namun semakin kuat. Saya kembali melafadzkan Syahadat dengan sepenuh hati, sebagaimana layaknya seorang mualaf. Beberapa tahun sebelumnya, saat pesantren kilat di SMP, guru agama saya pernah mengajak kami semua dengan sadar, mengucapkan kalimat Syahadat, dan hasilnya dengan kesadaran sendiri, saya memutuskan berjilbab, walopun belum sempurna berhijab.

Selain tentang berhijab, hal lain yang saya pelajari dari Sonia dan keluarganya adalah tentang perjuangan hidup untuk mendapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya. orangtuanya bukanlah pegawai berpenghasilan tetap. Tiap dua minggu sekali, Sonia dan kak Sarah bergantian pulang kampung. Selain untuk bertemu orangtua, mereka juga sekalian mengambil uang untuk biaya hidup dan biaya kuliah, juga mengambil beras untuk makan selama tinggal di kosan. Pernah suatu waktu saya main ke kosan Sonia saat dia baru tiba dari kampung, saya melihat Sonia mengeluarkan satu kantung plastik uang receh, ya benar uang receh! Saya tertegun, uang receh sebanyak itu adalah untuk menambah biaya hidup mereka selama dua minggu kedepan.

Kak Sarah adalah sosok akhwat yang cerdas dan supel, tak heran banyak yang naksir sewaktu kuliah. Namun kak Sarah teguh pada prinsipnya untuk tidak pacaran hingga halal atau setelah menikah. Lagipula kak Sarah ini tipe study-holic, kemana-mana ga lepas dari buku dan diktat kuliah. Beda dengan Sonia yang lebih rajin mengurus kebutuhan sehari-hari seperti memasak, mencuci dan bersih-bersih di kosan.

Pernah suatu waktu menjelang akhir masa kuliah kami, Sonia bercerita. Dia kenal seorang laki-laki saat Kerja Praktek (KP) di PT. Epson Batam. Sebutlah namanya Dino. Mas Dino ini adalah karyawan PT. Epson Batam yang menjadi pembimbing KP. Tiap hari bertemu selama tiga bulan disana membuat benih-benih rasa suka diantara mereka. Setelah Sonia selesai KP, mas Dino masih sering telpon dan sms. Hingga Sonia memutuskan untuk menceritakan kepada orangtuanya. “Jika memang serius, datanglah ke rumah”, demikian pesan orangtuanya. Sonia pun menyampaikan hal tersebut kepada mas Dino. Ternyata respon mas Dino, dia belum siap ketemua orangtua Sonia, mas Dino pengennya mereka pendekatan dulu, komunikasi lewat telpon dan sms dulu. Wah seperti orang pacaran donk! Dengan halus Sonia memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan mereka jika memang tidak jelas tujuannya.

Setelah lulus kuliah kami berpisah. Walaupun masing-masing sibuk dengan perjuangan mencari pekerjaan dan rencana masa depan, kami masih keep in touch via sms, telpon dan e-mail. Beberapa tahun kemudian saya mendapat kabar Sonia akan menikah, dengan laki-laki pilihan hatinya yang dia kenal selama menjadi management trainee di sebuah perusahaan swasta. Sayang saya tidak bisa hadir saat itu karena bentrok dengan jadwal cuti bersama adik-adik saya. Tapi dengan tulus saya mengirimkan doa sepenuh hati untuk sahabat saya ini, yang cantik paras dan hatinya. Dia sempat cerita melalu e-mail, bahwa prosesnya dengan sang calon suami tidak melalui pacaran, dari temenan hingga kesepakatan serius untuk menikah. Walaupun sempat ada sedikit hambatan dari keluarga calon suami yang masih belum familiar dengan wanita berhijab, namun karena Sonia dan calon suami sama-sama sudah sepakat, akhirnya keluarga luluh juga. Dari milis angkatan, saya melihat foto-foto pernikahan Sonia dan Roni, sang suami. Mereka terlihat bahagia dan serasi sekali, cantik dan tampan ujar saya dalam hati.

Dari awal saya kenal, Sonia tidak banyak berubah. Simple, istiqomah, tidak suka nonton film ke bioskop karena risih dengan film barat yang mengumbar aurat, tidak suka ikut-ikutan social network kayak Facebook karena lebih suka yang riil aja katanya. Setelah menikah, saya sempat ketemu dengan Sonia dan suaminya di Jakarta, saat saya hendak menghadiri pernikahan teman kantor. Mereka benar-benar pasangan yang serasi, kompak dan bahagia! Saat itu saya sempat ngobrol dengan Sonia. Dia selalu bisa memberikan nasihat yang sederhana namun menenangkan hati.

Hampir setahun saya tidak bertukar-kabar dengan Sonia, tiba-tiba kak Sarah nge-tag foto di Facebook. Ternyata Sonia sudah melahirkan, seorang putri yang cantik bernama Maura. Oia, kak Sarah sendiri sudah menikah dengan bang Dika, sesama dosen di almamater kami.

Saya memandangi foto cantik Maura, betapa hidup Sonia sekarang sudah jauh lebih bahagia dengan keluarga kecilnya. Sonia yang sederhana, yang teguh pada prinsip dan keyakinan, istiqomah di jalan-Nya, sudah berhasil melewati fase siklus kehidupan: lahir-besar-sekolah-kuliah-kerja-menikah-melahirkan-mengasuh anak. Pengalaman hidupnya telah banyak mengajarkan sejatinya keluarga yang bahagia; dimana saya saat ini hanya mampu belajar dari buku, seminar dan mendengar pengalaman hidup orang lain.

Ya, silaturahmi saya beberapa hari yang lalu ke rumah kontrakan Sonia di daerah Jakarta Selatan kembali mengetuk-ngetuk bilik hati saya. Kesederhanaan menyergap saya sejak mulai masuk gang ke rumah kontrakan Sonia dan suami. Masuk kedalam rumah, saya seperti merasakan kembali suasana rumah kos dulu waktu masih kuliah, dan juga rumah terakhir yang saya adik-adik tempati sebelum mamak meninggal.

Sonia dan suami masih terlihat sama saat terakhir saya bertemu mereka berdua, serasi, kompak dan bahagia. Hanya Sonia terlihat agak lelah, karena tiap malam harus terjaga karena menyusui dan mengganti popok Maura, katanya. Saya juga bertemu dengan mamanya Sonia, yang sudah empat bulan di Jakarta sambil menemani Maura di rumah saat Sonia dan suaminya bekerja. Mama masih cantik seperti dulu, hanya raut lelahnya berjuang hidup dan sisa-sisa perjuangan melawan stroke wajah beberapa tahun silam masih terlihat jelas. Mama yang dulu selalu riang bercerita, sekarang agak pendiam, mungkin karena sisa-sisa stroke yang membuat beberapa syaraf agak kurang nyaman jika digerakkan untuk berbicara.

Malam itu saya memutuskan menginap dirumah kontrakan Sonia. Awalnya saya agak ragu menyampaikan keinginan numpang nginap dirumah kontrakannya, khawatir jadi merepotkan. Tapi ternyata Sonia malah menawarkan menginap, tentu saja dengan senang hati saya terima. Bukan karena berpikir ingin mendapatkan tumpangan menginap gratis. Tapi bagi saya yang terbiasa tinggal di camp (asrama-red), dimana tiap orang tidur dikamar masing-masing dan jarang berinteraksi satu sama lain, bisa merasakan tidur dirumah itu rasanya bahagia sekali.

Kami makan malam bersama dengan menu rumahan, sayur bening wortel, lele sambel ijo dan ikan asam padeh. Ditutup dengan dessert kolak ubi, hmm....nikmatnya. Saya tidur di ruang depan bersama Mama, yang sekaligus merangkap ruang tamu dan ruang makan. Sonia, Roni dan Maura tidur di ruang belakang yang disulap jadi kamar dengan susunan lemari dan gorden. Saya langsung tertidur pulas, dan terbangun jam 2 pagi karena harus siap-siap berangkat ke bandara.

Sepanjang perjalanan pulang dari Jakarta – Balikpapan – Sangatta, saya banyak merenung dan belajar tentang keluarga bahagia dari Sonia dan Roni. Saya teringat kembali kepingan memori curhat saya bersama Sonia.

Sonia bercerita bagaimana prosesnya dengan suaminya hingga menikah. Dari awal, selama proses ta’aruf, mereka saling jujur dan terbuka satu sama lain. Semua hal yang penting dalam pernikahan selalu dibicarakan bersama dan disepakati bersama, misalnya tentang keuangan, rujukan saat konflik, rencana tempat tinggal, hal yang disukai dan tidak disukai, dan hal-hal yang dirasa penting lainnya. Bisa dibilang proses yang mereka lalui cepat dan jelas, namun tidak terburu-buru. Walaupun sempat dapat ganjalan dari orangtua Roni, tapi karena mereka berdua kompak menjelaskan dan meyakinkan kepada orangtua Roni, akhirnya khitbah, akad dan resepsi bisa berlangsung dengan lancar.

“Proses kami cepat banget”, ujar Sonia memulai cerita saat itu.

“Pas semasa MT (management trainee-red) kami ndak ada ngomong-ngomong (ngobrol-red), paling sekedar satu kelas bareng. Setelah terpisah sekian tahun, angkatan MT kami tetap keep in touch via e-mail. Kebetulan ada yang aku ingin tanyakan ke dia mengenai kerjaan, jadi aku e-mail dia. Trus dia nanya kabarku, aku juga tanya kabarnya. Basa-basi aku tanya dia kapan mau baralek (nikah-red), biar ntar kubantuin masak rendang”, Sonia tertawa renyah menceritakan kembali kisahnya.

“Roni bilang, dia udah pengen nikah, dia suka sama seseorang, trus dia sebut ciri-cirinya. Dengan pede-nya aja aku tanya balik, itu aku ya? Hahaha…”, Sonia kembali tertawa.

“Roni bilang iya, kamu mau ga? Aku tanya balik, kapan mau nikahnya? Roni jawab November tahun ini”

Sambil membenahi jilbabnya, Sonia melanjutkan ceritanya,

“Aku tidak langsung menjawab, tapi aku meminta waktu dua minggu kepada Roni. Selama dua minggu itu, aku bertanya banyak hal kepada Roni, tentang pandangannya terhadap sesuatu atau contoh kasus yang bisa menggambarkan cara dia menanggapi sesuatu. Aku juga sampaikan segala kekuranganku dan bertanya apa kekurangan dan karakternya yang tidak bisa diganggu gugat. Setelah dua minggu aku jawab ajakan nikahnya Roni, aku tanya kapan dia mau melamarku. Roni bilang bulan Januari dia akan ke rumahku untuk berkenalan dengan keluargaku, kemudian bulan Mei lamaran dan bulan November nikah”, Sonia berhenti sejenak.

“Jelas sekali rencananya ya?”, ujarku.

“Iya, karena aku meminta rencana yang jelas dan detail dari dia. Selama masa ta’aruf itu, kami sudah membicarakan mengenai banyak hal…mau tinggal dimana, mau bina keluarga seperti apa, kalo bertengkar rujukannya kemana…akhirnya kami sepakat semuanya balik ke Al Qur’an dan Hadist sebagai rujukan kalo beda cara tentang sesuatu, itu penting sekali! Pas ta’aruf harus detail rencananya, jangan ampe ga jelas, ntar menunggu sia-sia jadinya”, Sonia dengan semangat menjelaskan kepadaku yang dengan khusyuk menyimak ceritanya.

“Insya Allah kalo sama-sama sepakat dengan rujukan Al Qur’an dan Hadist, jauh lebih gampang ntar. Soalnya fitrah kita tuh sesuai dengan isi Al Qur’an dan Hadist sebenernya”, Sonia menambahkan.

“Dulu Roni hobi nonton film di bioskop, gila belanja dan teman-temannya cewek-cewek semua. Selama dua minggu itu, aku tanya ke teman lain sifat-sifat dia. Teman yang bilang hal yang sama tentang gaya hidup Roni itu. Teman-teman malah balik bertanya, apakah aku akan sanggup dengan gaya hidup dia yang jauh berbeda? Namun, selama aku kenal dengan Roni, ada kelebihannya yang aku perhatikan, yaitu sholatnya terjaga dan rendah hati serta perhatian ke agama. Akhirnya aku tekankan ke Roni, aku tidak suka nonton ke bioskop apalagi film barat yang mengumbar aurat serta pemborosan waktu, dan ternyata Roni setuju dengan permintaanku. Begitu juga dengan uang belanja, seluruhnya tanggungjawab suami, uang istri tidak disentuh kecuali kalo kepepet. Juga masalah teman-teman wanitanya, aku meminta Roni membatasi pergaulan yang terlalu akrab karena hukum khalwat dan ikhtilat dalam Islam. Alhamdulillah, Roni bisa menyetujui permintaanku itu. Kalo sama-sama sepakat dengan rujukan agama, insya Allah akan mudah…sampai sekarang Roni masih bertahan dengan komitmennya dulu, Alhamdulillah….”, Sonia tersenyum.

“Kalo kita nikahnya dengan dasar menjalankan agama, insya Allah bahagia. Meskipun pasangan kita tidak sebaik yang kita harapkan, tapi kalo sama-sama mau berpegang pada agama, akhirnya bathin kita dan pasangan juga akan menyatu. Soalnya fitrah kita sebagai wanita, selalu menuntut suami bisa menjalankan agama dengan baik. Kalo ga, bisa makan hati ntar. Karena wanita ini sensitif, sementara laki-laki cenderung pake logika. Tapi kalo suami tau agama dan patuh, mereka akan mengerti konsep bahwa orang-orang terbaik diantara kamu adalah yang paling baik memperlakukan keluarganya”, imbuhnya sambil menyitir salah satu hadist Rasulullah SAW.

“Akhlak pasangan, visi dan misi yang sejalan itu penting dalam pernikahan. Ntar kita dituntut jadi istri sholehah, ya bakalan sulit kalo suaminya bukan suami sholeh juga. Kecuali benar-benar wanita penyabar yang ridho dan kita belum sampai disitu kayaknya hehehe”, Sonia terkekeh.

“Dalam pernikahan, uang itu memang penting. Tapi pentingnya uang itu, sebanyak memenuhi kebutuhan hidup, dan kebutuhan hidup itu tergantung gaya hidup kita juga loh…Tampang ganteng sama sekali ga penting, yang normal dan wajar ajalah. Kalo dah serumah, jelek-jeleknya kita akan sama-sama keliatan kok dua-duanya hehehe….jadi udah ga merhatiin lagi ganteng ato ga, cantik ato ga, karena udah saling menyayangi”

Sonia menangkap tatapanku yang penuh harap saat mendengar dia bercerita,

“Insya Allah ada jodoh Gadis….sabar aja….yang penting usaha. Gadis udah memilih jalan yang benar dengan tidak pacaran, semoga Allah membalas niat baik Gadis, karena itu demi membangun keluarga Islami juga kan?”, Sonia menatapku sambil tersenyum.

“iya, aku yakin jodoh tidak akan tertukar. Tinggal gimana cara menjemputnya, mau dengan cara yang halal atau haram, akan beda berkahnya…gitu kan?”, ujarku membalas senyum Sonia.

Note: nama asli tokoh dalam kisah ini disamarkan, demi menjaga privasi.

0 comments:

Post a Comment