Tuesday, January 8, 2013

Ulang Tahun Itu…


“Age is an issue of mind over matter, if you don’t mind, it doesn’t matter”
Mark Twain

Alhamdulillah, hari ini bertambah lagi usiaku, berkurang pula jatah hidupku di dunia ini. Momen ulang tahun ini adalah momen yang unik, karena disaat yang sama, kita harus banyak bersyukur karena Allah masih mengizinkan kita hidup hingga bertambahnya usia, dan juga harus banyak bertaubat karena kita semakin dekat dengan kematian yang sudah pasti akan datang pada setiap mahluk yang bernyawa.

Setiap masa, setiap usia, punya caranya sendiri ketika merayakan hari ulang tahun….

Ulang Tahun Masa Kanak-kanak
Masa kanak-kanak identik dengan bermain, bernyanyi, ceria dan tertawa. Tak heran jika pesta ulang tahun mereka tidak jauh dari pakem: kue ultah, balon warna-warni, badut dan MC yang lucu, baju ultah ala pangeran, putri, atau tokoh jagoan, kado yang lucu, nyanyi bareng, tiup lilin, goodie bag yang isinya bermacam permen, coklat, snack cemilan anak-anak, susu. Semuanya hanya untuk merayakan kegembiraan hari ulang tahun.

Beberapa orangtua ada yang cukup bijak mengundang anak yatim dari panti asuhan atau tetangga yang kurang mampu untuk ikut hadir dalam kegembiraan hari ulang tahun anaknya. Namun tidak sedikit pula orangtua yang menjadikan pesta ulang tahun anaknya sebagai ajang pamer atau adu gengsi. Pesta ulang tahun anak dirayakan di hotel berbintang, di gedung mewah atau di restoran ternama. Atau yang paling “sederhana” adalah di restoran siap saji yang memang menyediakan paket dan tempat khusus untuk ulang tahun anak-anak.

Ga salah sih jika pesta ulang tahun anak dirayakan layaknya pesta perkawinan, asalkan orangtuanya mampu dan tidak memaksakan diri. Hanya mungkin jangan lupa, anak juga perlu dididik sedini mungkin tentang sejatinya ulang tahun itu.

Bagi orangtua, momen ulang tahun anak bisa dijadikan saat evaluasi, apakah pertumbuhan anak sudah sesuai dengan usianya, sudah seberapa jauh perkembangan anaknya, apakah cara mendidik anak selama ini sudah sesuai dengan kebutuhan anak. Yang ditekankan disini adalah pentingnya mendidik anak sesuai dengan kebutuhannya, bukan sesuai dengan keinginan orangtua, karena tidak sedikit orangtua yang sudah mengarahkan anaknya sejak kecil sesuai dengan ambisi orangtua.

“Horeee….adek ulang tahun hari ini! Yuk ucapkan Alhamdu…lillaah”
“Adek ultah ya hari ini? Umur adek nambah donk ya…berarti adek tambah besar nih”
“Adek udah besar nih, udah bisa mandi sendiri donk…udah bisa makan sendiri donk…udah bisa bobok sendiri donk….hebaaat!!”

Bagi anak, momen ulang tahun bisa dijadikan momen untuk memupuk rasa percaya diri anak, bahwa dia sudah besar, sudah bisa melakukan aktivitas yang sebelumnya dia belum mampu, atau bisa dijadikan momen untuk memberikan apresiasi terhadap prestasi atau perkembangan anak, misalnya selama setahun terakhir ini anak sudah bisa makan sendiri, maka pas ulang tahun anak diberi hadiah satu set peralatan makan anak yang baru.

Saya dan adik-adik, karena keterbatasan ekonomi keluarga, hampir tidak pernah merayakan ulang tahun. Seingat saya, pernah sekali dulu saat saya masih duduk di bangku SD, saat saya ulang tahun (saya lupa ulang tahun yang keberapa) Mamak membuatkan kue bolu dan krim warna hijau untuk dihias ke kue bolu tersebut. Kemudian saya disuruh memanggil teman-teman sekolah dan tetangga serta anak yatim untuk datang ke rumah. Mamak juga memasakkan nasi goreng untuk kami makan bersama. Saya duduk diatas kursi di ruang tengah dengan “kue ultah” berwarna hijau diatas meja di depan saya. Teman-teman yang datang duduk mengisi ruang tengah rumah saya tersebut sambil sama-sama makan nasi goreng. Tidak ada balon warna-warni, tidak ada badut dan MC yang lucu, tidak ada goodie bag dan tidak ada kado. Sederhana dan lucu sekali ya pesta ulang tahun saya hehehe….Tapi seingat saya, pernah beberapa kali pas ulang tahun saya, Bapak memberikan hadiah atas prestasi saya karena selalu juara kelas.

Ulang Tahun ke-17
Masa muda paling indah dan penuh kenangan itu adalah saat SMU, demikian kebanyakan orang berpendapat. Usia 17 tahun rata-rata anak masih duduk di kelas 2 atau 3 SMU. Selalu banyak cerita yang dikenang dari masa SMU. Tentang jatuh cinta, patah hati, rebutan gebetan atau pacar, geng bolos sekolah, geng gaul, juara kompetisi antar sekolah, idola basket, cewek-cewek chearleaders, anak-anak OSIS, dan aneka pernik cerita lainnya.

Selain di usia 17 tahun udah bisa punya Kartu Tanda Penduduk (KTP), yang secara hukum Indonesia menandakan anak telah menjadi dewasa, banyak orangtua juga yang mewanti-wanti anaknya baru boleh pacaran kalo udah usia 17 tahun. Sehingga tak heran jika menjelang ulang tahun yang ke-17, banyak yang berlomba-lomba dan memasang target pengen tiup lilin kue ulang tahun yang ke-17 dengan didampingi pacar. Bahkan ada yang menjadikan pesta ulang tahun ke-17 sebagai momen untuk “nembak” gebetannya. Yah begitulah riuh-rendah kegembiraan ulang tahun ke-17. Masing-masing punya cerita dan keunikannya sendiri merayakan ulang tahun ke-17, begitupun dengan saya.

Ulang tahun saya yang ke-17 bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Saat itu kami sekeluarga sedang libur lebaran Idul Fitri di Palembang. Saking asyiknya merayakan lebaran bersama-sama saudara yang jarang bertemu, saya sampai lupa kalo hari itu adalah hari ulang tahun saya. Hingga sore menjelang malam, Bapak dan Mamak mendekati saya dan memberikan ucapan selamat ulang tahun. Tanpa pesta ulang tahun dan tanpa pacar. Bapak hanya memberikan uang jajan lebih untuk menambah pundi-pundi tabungan saya.

Beberapa tahun sebelumnya, pernah ada orang yang bilang ke saya bahwa saat saya berusia 17 tahun nanti saya akan mengalami cobaan hidup yang berat. Yang jelas saat itu saya bukan sedang datang ke peramal loh ya. Saya juga lupa siapa orang tersebut, entah saudara atau temannya orangtua saya. Dan entah kebetulan juga, tebakan orang tersebut benar. Enam bulan setelah ulang tahun saya yang ke-17, Bapak meninggal dunia.

Bagi saya, Bapak adalah panutan dan motivator hebat saya, selain kakek (bapaknya Mamak). Walaupun Bapak mendidik saya dengan keras dan disiplin, namun itu justru membuat saya berani bermimpi ingin kuliah setinggi-tingginya, melebihi beliau yang hanya sarjana muda. Namun wafatnya Bapak membuat masa depan saya mendadak menjadi gelap, sebab Bapak adalah tulang punggung keluarga sementara Mamak hanya ibu rumahtangga. Saat itu saya merasa limbung, pegangan hidup saya lepas.

Wafatnya Bapak bertepatan dengan seminggu menjelang ujian kenaikan kelas. Tiap saya bangun malam untuk belajar, airmata saya tak henti-hentinya berlinang. Saya selalu teringat beliau yang sering menegur saya jika belajar hingga larut malam sampai lupa tidur. Alhamdulillah saya bisa lulus ujian kenaikan kelas dan tetap rangking 1 di kelas, walaupun sempat saya dengar gossip bahwa saya rangking 1 karena guru-guru kasihan sama saya.

Saat naik kelas 3 SMU, saya sempat memilih jurusan IPS, karena saya berpikir tidak mungkin Mamak mampu membiayai kuliah saya sementara kedua adik saya masih duduk di bangku SD, masih panjang perjalanan mereka dan tentu saja butuh biaya yang harus dihemat-hemat dari sekarang. Kalo saya ambil jurusan IPS, tamat SMU nanti saya mudah cari kerja sebagai admin atau bagian akunting, sambil saya nabung biaya kuliah saya sendiri. Saat saya jelaskan pilihan saya ini kepada wali kelas dan guru konseling, saya dinasehati untuk mengambil jurusan IPA, sebagaimana niat awal saya dulu sejak kelas 1 SMU. Beliau berdua yang menguatkan saya, mengembalikan saya ke jalan yang benar.

Kelas 3 SMU saya lewati dengan penuh perjuangan, belajar, belajar dan belajar. Walaupun sempat merasakan pahitnya patah hati, dan sempat mengganggu semangat belajar saya, namun tidak membuat nilai-nilai saya terjun bebas. Saya berhasil menyelesaikan SMU dengan nilai NEM tertinggi se-kota Batam, mendapatkan beasiswa Darmasiswa Caltex Riau selama 3 tahun kuliah dan mendapatkan PMDK dari D-3 Politeknik Caltex Riau dan S-1 Teknik Elektro Universitas Andalas. Saya sempat memilih D-3 Politeknik Caltex Riau dengan pertimbangan lulusan D-3 lebih mudah cari kerja. Tapi lagi-lagi saya dinasehati oleh Kepala Sekolah saya agar memilih S-1 Teknik Elektro Universitas Andalas, dan saya akhirnya mengikuti nasihat beliau.

Jujur saja, saya banyak berterimakasih kepada guru-guru SMU saya, karena mereka tidak hanya berjasa memberikan transfer ilmu kepada saya, tapi juga dukungan moril, materil, nasehat dan empati kepada saya, sehingga saya sanggup bertahan melanjutkan studi walaupun Bapak sudah tiada. Semoga Allah membalas semua amal baik mereka, Aamiin YRA.

Ulang Tahun Dewasa
Seiring dengan bertambahnya usia, lulus sekolah, lulus kuliah, bekerja dan menikah, perayaan ulang tahun pun ikut bergeser dari sekedar pesta. Ada yang sekedar traktir makan teman kuliah ato teman kantor, bikin syukuran ato pesta dengan teman dekat saja atau liburan bersama keluarga saja. Ya, semakin dewasa, momen ulang tahun cenderung dirayakan lebih intim, bersama sahabat,  teman dekat atau keluarga. Ada juga yang menjadikan momen ulang tahun sebagai hari pernikahan. Sebagian lagi menjadikannya sebagai momen untuk muhasabah atau evaluasi diri dan membuat rencana hidup.

Saya termasuk yang terakhir itu. Ulang tahun saya beberapa tahun terakhir ini, selalu saya jadikan momen untuk muhasabah dan membuat resolusi, karena kebetulan juga ulang tahun saya jatuh di bulan Januari dimana banyak orang juga menjadikannya sebagai milestone rencana hidup paling tidak untuk satu tahun kedepan.

Saya teringat waktu masih sekolah dulu. Teman-teman saya rata-rata pengen menikah di usia 25 tahun, karena menurut orangtua usia tersebut sudah dewasa untuk menikah. Dan tidak sedikit memang teman-teman saya itu yang akhirnya benar-benar menikah di usia 25 tahun, ada juga yang lewat sedikit bahkan ada yang lebih cepat. Ada yang pernikahannya masih bertahan hingga sekarang dan sudah dikarunia anak-anak yang lucu, namun ada juga yang gagal dalam pernikahannya. Lantas, benarkah usia 25 tahun adalah saat yang dewasa untuk menikah? Bagaimana dengan yang belum menikah hingga kini seperti saya dan beberapa teman yang lain? Apakah berarti kami belum dewasa?

Kenyataannya adalah, setiap orang punya jalan hidup yang unik.

Sebutlah Puji, teman kantor saya. Dia juga punya mimpi ingin menikah di usia 25 tahun. Dan saat dia berusia 25 tahun, dia memang hampir merealisasikan mimpinya itu: sudah lulus kuliah, sudah bekerja dan sudah punya pacar. Namun siapa bisa menolak ujian hidup dari-Nya, Puji divonis menderita kanker darah atau leukemia. Saat Puji sedang berjuang melawan kanker, pacarnya tiba-tiba memutuskan hubungan secara sepihak, dan tidak lama kemudian Puji mendengar berita pacarnya itu menikah dengan wanita lain, pilihan orangtuanya.

Tiga tahun lamanya Puji berjuang melawan kanker hingga benar-benar pulih dan bisa kembali bekerja. Justru dengan kedewasaannya, dan tak lepas dari doa orang-orang yang menyayanginya, Puji mampu bertahan melawan sakit fisik dan sakit hatinya. Moving on. Dan akhirnya Puji menikah dengan laki-laki yang bisa menerima masa lalu dan kekurangannya, di usia 29 tahun.

Lain halnya dengan saya. Usia 25 tahun saya membuat salah satu keputusan emosional dalam hidup saya, bukan menikah, tapi resign dari kantor karena berbeda prinsip dengan manager. Setelah saya lalui, saya sadar bahwa keputusan emosional tersebut tidak sepenuhnya tepat. Dewasa tidak selalu berarti memutuskan segala sesuatunya sendiri tanpa meminta pertimbangan dari orangtua, dewasa juga berarti mampu menyeimbangkan antara idealisme dan prinsip dengan realitas kehidupan.

Realitasnya adalah, menjadi pengangguran itu tidak enak. Apalagi bagi saya yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga, membiayai hidup keluarga kami yang selama ini hanya bersumber dari uang pensiun Bapak dan sewa rumah kontrakan. Saya sempat bekerja di kantor lain, namun kembali saya memutuskan untuk resign. Menjelang akhir usia 25 tahun, saya mendapat cobaan berat. Mamak sakit keras, dan tepat 16 hari setelah ulang tahun saya yang ke-26, Mamak meninggal.

Saat itu saya masih menganggur, adik saya Yan baru kuliah tahun pertama di Pekanbaru dan adik saya Mia masih duduk di bangku SMK. Mungkin karena rasa tanggungjawab sebagai anak laki-laki di keluarga, Yan memutuskan untuk pindah kuliah ke Batam agar kami bertiga bisa kumpul. Awalnya Yan enggan untuk melanjutkan kuliah dan pengen cari kerja saja agar bisa membiayai hidup kami, tapi saya menghiburnya bahwa kami masih dapat uang pensiun bulanan, masih cukup untuk bayar kuliah Yan dan sekolah Mia. Kami bertiga sempat tinggal di rumah paman dan bibi di Batam, agar Yan dan Mia masih bisa merasakan adanya orangtua di rumah, karena usia mereka masih remaja, masih butuh sosok orangtua yang disegani dan dihormati di rumah. Sementara saya masih menganggur dan masih cari-cari kerja, saya banyak membantu pekerjaan rumah, seperti menyapu, mengepel, memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, menjemur dan mengangkat jemuran. Rutinitas saya tiap hari seperti itu, ditambah dengan saya merutinkan sholat Dhuha dan sholat Tahajjud.

Tiga bulan setelah Mamak meninggal, saya kembali bekerja di kantor. Kami tetap tinggal di rumah paman dan bibi, hingga akhirnya saya mendapatkan pekerjaan di Kalimantan. Karena tidak ingin terlalu lama merepotkan paman dan bibi, sebelum saya berangkat ke Kalimantan, saya dan adik-adik pindah ke rumah kontrakan yang terletak dekat dengan kampus adik-adik saya. Selama bertahun-tahun bekerja di Kalimantan, yang saya prioritaskan adalah biaya hidup kami bertiga dan kelancaran kuliah adik-adik saya. Sering terbersit keinginan saya untuk segera menikah, membentuk keluarga baru yang utuh, bersama laki-laki pilihan hati saya. Tapi ketakutan akan kesulitan hidup kami sebelumnya membuat saya sangat berhati-hati, hingga saya lebih fokus untuk memikirkan biaya kuliah adik-adik dan membeli rumah kami yang baru agar tidak terus-menerus tinggal di rumah kontrakan.

Alhamdulillah, tahun 2012 banyak berkah yang saya dapatkan: bisa menunaikan nazar saya dengan umroh, adik saya Yan wisuda dan sudah bekerja, bisa beli tanah di Bogor dan rumah di Batam walaupun masih nyicil. Empat tahun setelah Mamak meninggal, ekonomi keluarga sudah jauh lebih baik, bahkan melebihi dari kondisi kami dulu. Dan kami merasa cukup dengan itu semua, semua yang kami butuhkan selalu terpenuhi dengan cara-Nya.

Ulang tahun saya tahun ini dan tahun-tahun kedepan, saya membuat rencana hidup untuk lebih banyak bermanfaat buat oranglain, baik itu secara materi dan non-materi. Karena, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi oranglain. Selama mengalami kesulitan hidup dulu, kami lebih sering menjadi “tangan dibawah”. Saat ini, dimana Allah sudah menitipkan banyak sekali berkah-Nya, kami ingin selalu menjadi “tangan diatas”, atas izin Allah yang memampukan kami. Bukan hanya sekedar sedekah, zakat atau infak yang bersifat materi, tapi tenaga, pikiran dan keahlian yang bisa menjadi penggerak ekonomi umat. Semoga Allah meridhoi cita-cita kami, Aamiin YRA.


2 comments:

  1. met milad mbak :)
    semoga sukses dunia akherat :)
    maaf telad ngucapin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin YRA...
      makasih yaaa...doa yg sama buat siska jg ya ;p

      Delete